Jumat, 07 Januari 2011

kereta kereta tercepat sepanjang sejarah

Tokaido Shinkansen – Jepang
Jepang mengejutkan dunia dengan meluncurkan kereta cepatnya Shinkansen (kereta peluru) pada tahun 1964 untuk melayani rute Tokyo-Nagoya-Kyoto-Osaka, dan kecepatannya "hanya" berkisar 201 km/jam (di tahun itu udah yang paling kenceng).

Kereta WIN 350 Eksperimental:

JR E3

JR E4

Tiap jalur memiliki nama-nama sendiri (Tokaido, Tohoku, dll), dan tiap jenis keretanya diidentifikasi dengan sebuah julukan (Nozomi, Hikari, dll). Hampir 40 tahun sejak diluncurkan pertama kali, Shinkansen sudah mengangkut 6 miliar penumpang tanpa ada kecelakaan berarti. Rute Shinkansen juga memiliki frekuensi yang sangat tinggi, seperti rute Tokyo dan Shin-Osaka yang bisa dilewati enam kereta per-jamnya (bukan per-hari!).

JR 300

"Hikari" berarti "cahaya", merupakan layanan Shinkansen pertama pada rute Tokaido/Sanyo. Semenjak munculnya kereta Nozomi, saat ini menyediakan layanan mid-level dengan beberapa pemberhentian tambahan, tetapi tetap dengan kecepatan tinggi. Kereta Hikari menghubungkan Tokyo dan Osaka dalam waktu kira-kira 3 jam. Penampilannya lebih bernuansa jet supersonik ketimbang kereta, dengan desainnya yang futuristis dan kenyamanan luar biasa.



Variasi JR 500

Berarti "harapan", kereta-kereta Nozomi hanya membutuhkan waktu 2,5 jam untuk menempuh jarak Tokyo-Osaka, dan 5 jam hingga ke seluruh tujuan di ujung paling selatan kepulauan di Hakata (Fukuoka). Jalur-jalur kereta di Jepang ini mendukung secara komersial mobilisasi penduduknya yang padat di daerah-daerah ini, meski untuk menjalankannya tiap kereta butuh biaya hingga $40 juta.



JR 800 Seri Terbaru


Khusus "Storm Troopers":


JR-Maglev MLX01

Kereta ini termasuk jenis kereta superconducting magnetic levitation - maglev (melayang di atas rel secara magnetis) dan dalam uji cobanya sanggup mencapai kecepatan 581 km/jam dan sejauh ini belum digunakan secara komersial. China maju selangkah dengan lebh dulu mengoperasikan kereta jenis maglev ini pada tahun 2004.

Kereta Cepat Perancis
Train a Grande Vitesse (TGV) – Perancis
Diresmikan pada awal tahun 80-an, TGV melayani rute Lyon dan Paris, setelah suksesnya rutenya kemudian ditambah ke kota lain di Perancis bahkan ke negara lainnya. Kereta ini dibangun oleh Alstrom SA - perusahaan pembuat kereta terbesar kedua di dunia. Kereta generasi barunya TGV V-150 memecahkan rekor kecepatan untuk kereta beroda konvensional pada kecepatan 515 km/jam. Kereta ini menggunakan supercharged engine dan meiliki roda kereta yang besar. Rekor barunya saat ini mencapai 574,8 km/jam (lihat di sini).



Kereta Cepat Jerman
InterCity Express (ICE)

Di awal tahun 90-an Jerman meresmikan kereta cepatnya untuk melayani rute Hannover, Wurzburg, Mannheim, dan Stuttgart. Kereta ini dibangun oleh Siemens dan mencapai kecepatan 280 km/jam.

Transrapid

Jerman juga membangun sendiri kereta maglev-nya Transrapid yang mampu mencapai kecepatan 550 km/jam tapi sayangnya pernah mengalami kecelakaan pada September 2006 di dekat kota Lathen dan menewaskan 23 penumpangnya.

Kereta Maglev Shanghai – China


Dibangun dengan teknologi Jerman, kereta ini mampu mencapai kecepatan hingga 430 km/jam dan sanggup membawa penumpangnya dari bandara internasional Pudong menuju Longyang Road Station di pusat kota hanya dalam waktu 8 menit.


Korean Train Express (KTX) – Korea Selatan

Tahun 2004 Korsel menjadi negara kedua di Asia disamping Jepang yang membangun jalur kereta cepat yang menghubungkan beberapa kota utamanya. Teknologi KTX mengadopsi teknologi TGV (kereta cepat asal Perancis).


Taiwan High Speed Rail – Taiwan

Setelah beberapa tahun penundaan, akhirnya Taiwan High Speed Rail diresmikan penggunaannya pada tanggal 5 Januari 2008. Kereta cepat ini dibangun dengan basis teknologi Jepang Shinkansen dan memendekkan waktu tempuh dari Taipei menuju Kaoshiung menjadi 90 menit dari sebelumnya yang 4 jam.


Kereta Cepat Italia
Direttissima

Itali resmi meluncurkan kereta cepatnya untuk rute Roma dan Florensia dengan kecepatan 254 km/jam.

Eurostar – Inggris Raya

Kereta cepat ini dioprasikan tahun 1994 dan melayani rute dari London ke Perancis dan Belgia (melalui terowongan bawah laut). Dari London ke Paris menggunakan kereta ini memakan waktu 2 jam 35 menit. Kecepatannya saat ini mencapai 300 km/jam.

Saat Nya Terbang Dengan Tenaga Air

Terbang sendiri ke udara dengan roket pribadi mengambil inspirasi dari cerita-cerita fiksi tahun 1920-an. Tahun 1960-an teknologi semacam itu telah menjadi kenyataan. Tapi sampai saat ini kendalanya adalah roket yang digunakan belum membawa bahan bakar yang cukup untuk terbang, sehingga mengangkasa tidak lebih dari 30 detik saja. Kini muncul alat sejenis yang mengusung teknologi water-propelled jetpack. Lebih lama terbangnya dan lebih aman. Masak, sih?




JetLev-Flyer adalah jetpack bertenaga 215 HP yang bekerja dengan menyemburkan air ke bawah melalui mulut-mulut pipa semprot dengan tekanan tinggi sehingga bisa menerbangkan pemakainya dengan kokoh dan terkontrol. Penggunanya dapat terbang angkasa hingga ketinggian 30 kaki dan top speed 64 km/jam. Model penerusnya bahkan sanggup terbang hingga 50 kaki pada kecepatan 80 km/jam. Iiii...ha!


JetLev-Flyer sanggup bermanuver dengan mudah, mampu berbelok-belok saat take-off, terbang, melayang-layang, dan mendarat. Sanggup terbang selama 2 jam bahkan hingga 5 jam dengan jarak jelajah 300 km. Uniknya adalah mesin ini didorong dengan tenaga air melalui selang karet oleh mesin 4 tak yang mirip dengan mesin kapal boat yang dipasang di punggung.


Sisi positif dari mesin ini adalah terbangnya yang jauh lebih lama dari jetpacks biasa. Ini terutama karena JetLev-Flyer terbang di atas sumber bahan bakarnya. Mesin ini menyedot air dari danau atau laut di bawahnya dan bukannya membawa serta bahan bakar dan mesinnya ke udara.


Memang selang karet kuningnya agak sedikit mengganggu, karena berarti akan menahan penggunanya dan secara teknis bersentuhan dengan permukaan air. Tapi karena benda ini membawa kita ke udara, anggap saja sebagai jaring penyelamatnya. Tentu saja kebanting di air pada kecepatan tinggi sangat menyakitkan, tapi pembuatnya meyakinkan bahwa alat ini mudah digunakan dan lebih aman ketimbang main ski air atau parasailing. Di Bali atau Ancol udah ada belum ya...



Text Widget